Blog & Article

Beranda Blog

Boardgame; Alternatif Mainan Anak Indoor

Anak-anak kebanyakan main games di gadget acap membuat para Mams and Paps cemas. Problema ini tidak hanya dialami sedikit orang tua. Lalu bagaimana ya kira-kira mengarahkan games ini ke arah yang positif?


Dalam artikel #123What'sUpMam kali ini bersama Andre Dubari, pendiri Shuffle Board Game Library di Bandung mencoba mengupasnya. Nah, Kang Andre memulainya dari pasar game di dunia yang sebanyak 58 persen didominasi oleh Asia Pasifik termasuk Indonesia. Target marketnya adalah usia muda kisaran 10-40 tahun. Menurutnya industri game ini tidak main-main, segmen tertentu dari industri ini yang dikenal sebagai AAA (triple A) memiliki budget produksi serta potensi pendapatan yang jauh melebihi industri film Hollywood.


Ia mencontohkan kasus GTA, sebuah permainan yang konon diprotes para orang tua karena mengajarkan perilaku negatif pada anak-anaknya, mencetak hingga 6 rekor dunia terkait nilai penjualannya. Mulai dari pendapatan terbanyak dalam 24 jam, meraih pendapatan 1 milyar dollar tercepat dalam 3 hari, dll, bahkan memecahkan rekor nama besar seperti film Avenger dan Avatar.


Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan kelas GTA sebagai game yang baik. Bahwa GTA adalah game yang dirancang dengan tepat untuk usernya atau target marketnya. Nah, ketika para orang tua membahas pengaruh negatif GTA, Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Pegiat Industri Board Game ini menilai bahwa bukan game yang memiliki pengaruh buruk, melainkan bahwa kita masih punya kendala besar, tantangan besar, dan masalah dalam proses kurasi. Justifikasi dari pihak Rockstar Games sebagai penerbit GTA sejatinya produk tersebut tidak pernah mereka tujukan untuk target pemain anak-anak. Jadi, pertanyaan besar justru memang harusnya kita ajukan ke kita, apakah kita sudah mau melakukan kurasi untuk memastikan akses ke kultur bermain yang baik?


Lulusan teknik elektro ITB ini mengatakan challenge terbesar dari industri game adalah stigma negatif yang melekat pada game. Tingkatannya:

1. Game hanya pengisi waktu luang

2. Game sebagai waste of resource, waste of time

3. Melihat game sebagai media yang berbahaya, merusak, dan harus dihindari

Game telah dalam posisi ubiquitos alias ada dimana-mana. Memproteksi anak sebagai usaha menghindari game di lingkungan keluarga tidak akan menghalanginya terekspos di lingkungan sekolah. Bahkan dengan lingkungan sekolah yang relatif secara ketat memagari pelajar-pelajarnya dengan game tidak akan mampu memastikan eksposur yang ditakuti tersebut tidak terjadi di lingkungan lainnya, di luar keluarga dan sekolah.


Hmmm... Gimana, Mams and Paps, sangat mencerahkan ya. Lanjut lagi...


Kultur bermain merupakan kebutuhan manusia untuk segala umur. Menghilangkan elemen bermain dalam keseharian anak-anak kita mungkin berimbas pada pembentukan karakter yang kurang utuh. "Jadi bukan menghilangkan elemen bermain, namun dengan memberikan akses ke opsi yang baik (kurasi) dan memberikan kembali kuasa menentukan jadwal bermain yang baik (proporsi)."


BOARD GAME

Board game merupakan satu bagian dari industri game. Istilah board game merujuk ke permainan yang menggunakan papan permainan, kartu dadu, figure/pion/token sebagai elemen atau komponen utamanya. Board game sendiri bukan barang asing dalam peradaban dan kebudayaan yang dibangun manusia setidaknya sudah dimainkan 3000 SM. 


Board game sampai saat ini masih bertahan bahkan dalam beberapa tahun ke belakang menjalani masa "Board Game Renaissance". Meski saat ini penetrasi teknologi dan gawai digital telah merambah seluruh lapisan masyarakat namun animo dan demand terhadap board game justru malah meledak. Referensi board game yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia seperti ular tangga, monopoli, congklak, dan catur. Semua permainan tersebut memiliki konten dan design purpose. 


Marketing Director Kummara sekaligus Business Development Manager di Manikmaya ini menyebut tahun 80-an merupakan tonggak dimulainya era baru, board game modern. Saat itu rekan-rekan di Jerman memulai inisiasi Spiel des Jahres (game of the year), penghargaan bagi para board game designer, yang disebutnya serupa Oscar-nya industri game. 


Nah, Mams and Paps, judul board game sangat bervariasi sehingga kita harus memilih yang tepat untuk dimainkan keluarga kita. Berdasarkan tingkat kesulitan ada 4 kategori board game:

1. Children Game atau Kinderspiel

Game ini direkomendasikan untuk Mams and Paps yang memiliki anak usia 4-8 tahun. Anak di bawah usia tersebut belum disarankan sebab sedang sangat aktif bereksplorasi dengan imajinasinya. Penting pula diingat bahwa game adalah set of rules, the earliest phase anak dapat dikenalkan dengan permainan adalah saat anak sudah bisa mengenal mana boleh dan mana tidak. 

2. Family Game

Tingkat kesulitannya masih relatif rendah sehingga sang anak bisa mulai melakukan analisis dan pengambilan keputusan. Namun, masih cukup menantang sehingga para orang tua bisa ikut bermain. Plato pernah menekankan bahwa kita bisa mengenal jauh lebih banyak tentang seseorang melalui bermain daripada berbincang. "Ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengenal lebih dalam karakteristik anak-anak kita."

3. Party Game

Nah, untuk sesi bermain yang mengumpulkan banyak pemain, misal seperti kumpul keluarga di masa libur Lebaran, rekomendasinya adalah Party Game. Sebab dapat mengakomodir banyak pemain dan ringan dimainkan.

4. Gamers Game atau Kennerspiel


"Salah satu kelebihan board game selain fase interaksinya adalah bahwa token fisik melibatkan aktivitas motorik kasar yang sangat penting dalam perkembangan anak."


Dalam mengoptimalkan sebuah sesi bermain ada 3 fase yang direkomendasikan Kang Andre.

Pertama, Briefing. Serupa dengan merancang sesi bermain buat keluarga kita. Kita bisa memulai dari menentukan komitmen waktu bermain dan memastikan seluruh elemen pendukung tersedia. Saatnya bermain dengan intim bersama keluarga tanpa ada gangguan gadget dan lainnya. Melakukan kurasi terhadap judul game yang dimainkan mengingat board game membutuhkan usernya membaca buku panduan cara bermain terlebih dahulu. Jangan lupa untuk mempelajari buku atau menonton video tutorial sebelum memulai permainan.

Bagi Kang Andre, komitmen bermain ini sangat sakral sehingga seluruh anggota keluarga harus dapat bergabung. Frekuensinya? Bisa 1-2 minggu sekali sehingga jadwal setiap anggota bisa disiapkan. Jangan lupa untuk riset konten dalam board game tersebut.

  

Kedua, Play. Saatnya menikmati acara inti, dilarang mengobrol. Baiknya dalam fase ini seluruh anggota keluarga fokus menikmati permainan tersebut tanpa terganggu gadget, sosmed, dan lainnya.


Ketiga, DeBriefing. Fase terakhir atau post game discussion, penting sekali poin-poin penting atau kejadian penting dalam fase bermain tadi dibahas. Misalnya, bagaimana strategi pemenang, kenapa bisa kalah, apa yang menarik, apa yang diharapkan, dan ditutup dengan mengkoneksikan sesi bermain tadi dengan konten utama/tema game. 


Nah, Mams and Paps, treatment tersebut sebetulnya tidak terbatas untuk board game saja, namun juga applicable untuk game apapun. 


Demikian Mams and Paps sharing materi kali ini. Semoga menginsipirasi ya :)

Resep/media

image not avilable


Artikel terbaru

image not avilable

Game sebagai Media Pembelajaran

image not avilable

Pembatasan Penggunaan Gadget Dengan Bantuan…

image not avilable

Boardgame; Alternatif Mainan Anak Indoor

Berita/Kegiatan

image not avilable

Kopdar Innerself Healing

image not avilable

Penyuluhan dan seminar

image not avilable

Kegiatan 1

Lorem Ipsum

On the other hand, we denounce with righteo On the other hand, we denounce

You may also like

Checkout and enjoy the biggest unlimited possiblities